Trump minta Korea Selatan Bayar Rp160 Triliun Pertahun Biayai Pasukan AS
Internasional - Ketegangan baru kembali mewarnai hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan sekutu setianya di Asia Timur.
Dalam sebuah konferensi pers penuh kejutan di Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan menohok dengan menuntut Korea Selatan agar membayar biaya perlindungan sebesar 10 miliar dolar atau sekitar Rp160 triliun setiap tahunnya untuk keberadaan pasukan AS di negeri Ginseng tersebut.
Di hadapan awak media, Trump secara terbuka mengkritik Seoul dan mengenang kembali percakapannya dengan Presiden Korea Selatan, di mana ia sempat meminta bantuan dalam konflik terkait Iran namun berujung pada penolakan.
"Melindungi dari Kim Jong-un" hingga Kritik Biaya Latihan Militer, Mengingatkan kembali bahwa ada sekitar 39.000 personel militer AS yang siaga di Korea Selatan, Trump mempertanyakan efektivitas pengeluaran miliaran dolar dari anggaran AS demi membela negara tersebut dari ancaman rezim Pyongyang.
“Mereka melindungi Anda dari Kim Jong-un,” ujar Trump menyindir kontribusi Seoul yang dianggapnya masih belum sepadan.
Sebagai catatan, sejak 1991, Korea Selatan memang telah rutin menanggung sebagian biaya penempatan militer AS melalui skema Special Measures Agreement (SMA) untuk menggaji staf lokal, logistik, dan infrastruktur.
Di bawah perjanjian yang berlaku tahun 2026 ini, kontribusi Seoul berada di angka 1,5192 triliun won (sekitar $1,1 miliar).
Jika tuntutan Trump dipenuhi, angka tersebut akan meroket hampir 10 kali lipat.
Ketidakpuasan Trump tidak berhenti pada urusan anggaran semata.
Trump juga kembali mempersoalkan mahalnya biaya latihan militer gabungan AS-Korsel yang dinilainya kerap memprovokasi Korea Utara.
Sebaliknya, Trump justru memuji dinamika hubungannya dengan Kim Jong-un, mengklaim bahwa Korea Utara menunjukkan sikap hormat dan menahan diri selama masa kepemimpinannya.
Karena pembatalan total latihan gabungan dinilai sulit dilakukan, Trump mengaku telah memerintahkan Kepala Pentagon, Pete Hegseth, untuk memangkas skala latihan militer tersebut secara drastis.
Tuntutan radikal ini dipastikan bakal memicu gelombang perdebatan panas di Seoul, sekaligus menguji ulang ketahanan aliansi militer Washington dan Korea Selatan di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas.
*8beritanews.com
Dalam sebuah konferensi pers penuh kejutan di Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan menohok dengan menuntut Korea Selatan agar membayar biaya perlindungan sebesar 10 miliar dolar atau sekitar Rp160 triliun setiap tahunnya untuk keberadaan pasukan AS di negeri Ginseng tersebut.
Di hadapan awak media, Trump secara terbuka mengkritik Seoul dan mengenang kembali percakapannya dengan Presiden Korea Selatan, di mana ia sempat meminta bantuan dalam konflik terkait Iran namun berujung pada penolakan.
"Melindungi dari Kim Jong-un" hingga Kritik Biaya Latihan Militer, Mengingatkan kembali bahwa ada sekitar 39.000 personel militer AS yang siaga di Korea Selatan, Trump mempertanyakan efektivitas pengeluaran miliaran dolar dari anggaran AS demi membela negara tersebut dari ancaman rezim Pyongyang.
“Mereka melindungi Anda dari Kim Jong-un,” ujar Trump menyindir kontribusi Seoul yang dianggapnya masih belum sepadan.
Sebagai catatan, sejak 1991, Korea Selatan memang telah rutin menanggung sebagian biaya penempatan militer AS melalui skema Special Measures Agreement (SMA) untuk menggaji staf lokal, logistik, dan infrastruktur.
Di bawah perjanjian yang berlaku tahun 2026 ini, kontribusi Seoul berada di angka 1,5192 triliun won (sekitar $1,1 miliar).
Jika tuntutan Trump dipenuhi, angka tersebut akan meroket hampir 10 kali lipat.
Ketidakpuasan Trump tidak berhenti pada urusan anggaran semata.
Trump juga kembali mempersoalkan mahalnya biaya latihan militer gabungan AS-Korsel yang dinilainya kerap memprovokasi Korea Utara.
Sebaliknya, Trump justru memuji dinamika hubungannya dengan Kim Jong-un, mengklaim bahwa Korea Utara menunjukkan sikap hormat dan menahan diri selama masa kepemimpinannya.
Karena pembatalan total latihan gabungan dinilai sulit dilakukan, Trump mengaku telah memerintahkan Kepala Pentagon, Pete Hegseth, untuk memangkas skala latihan militer tersebut secara drastis.
Tuntutan radikal ini dipastikan bakal memicu gelombang perdebatan panas di Seoul, sekaligus menguji ulang ketahanan aliansi militer Washington dan Korea Selatan di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas.
*8beritanews.com