September Puncak Musim Kemarau BMKG keluarkan Mitigasi Resiko
Nasional - Saat ini Puncak Musim Kemarau sudah memasuki di bulan September 2026.
Sebanyak 169 Zona Musim mencakup 25,41% luas daratan Indonesia sedang mengalami puncak kekeringan.
BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dengan rincian wilayah rawan sebagai berikut:
Status Awas (Sangat Rawan) berada di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Status Waspada & Siaga: Tersebar di sebagian Sumatra (Jambi, Sumsel, Lampung), Kalimantan (Kalteng, Kalsel, Kaltim, Kaltara), Sulawesi (Sulbar, Sulteng, Sulsel, Sultra), Bali, Nusa Tenggara (NTB & NTT), serta Maluku.
BMKG mengeluarkan Mitigasi dampak resiko kemarau yaitu Kekeringan hidrologis mengancam lumbung padi nasional akibat susutnya pasokan air irigasi.
Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan menanam varietas tanaman yang tahan kering.
Risiko Kebakaran (Karhutla) Puncak kemarau memicu tingginya kasus kebakaran hutan, lahan gambut, serta tempat pembuangan sampah (TPS/TPA), terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
Krisis Air Bersih, Penurunan curah hujan secara drastis berdampak pada berkurangnya pasokan air bersih masyarakat.
*8beritanews.com
Sebanyak 169 Zona Musim mencakup 25,41% luas daratan Indonesia sedang mengalami puncak kekeringan.
BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dengan rincian wilayah rawan sebagai berikut:
Status Awas (Sangat Rawan) berada di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Status Waspada & Siaga: Tersebar di sebagian Sumatra (Jambi, Sumsel, Lampung), Kalimantan (Kalteng, Kalsel, Kaltim, Kaltara), Sulawesi (Sulbar, Sulteng, Sulsel, Sultra), Bali, Nusa Tenggara (NTB & NTT), serta Maluku.
BMKG mengeluarkan Mitigasi dampak resiko kemarau yaitu Kekeringan hidrologis mengancam lumbung padi nasional akibat susutnya pasokan air irigasi.
Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan menanam varietas tanaman yang tahan kering.
Risiko Kebakaran (Karhutla) Puncak kemarau memicu tingginya kasus kebakaran hutan, lahan gambut, serta tempat pembuangan sampah (TPS/TPA), terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
Krisis Air Bersih, Penurunan curah hujan secara drastis berdampak pada berkurangnya pasokan air bersih masyarakat.
*8beritanews.com