Jangan Banggakan Pola Tidur Hanya 4 - 5 Jam Sehari
Berita Redaksi - Banyak orang masih merasa tidur 4–5 jam setiap malam bukan masalah besar.
Selama pagi masih bisa bangun, minum kopi, lalu bekerja seperti biasa, tubuh dianggap masih kuat.
Padahal kalau dilakukan terus-menerus, utang tidur bisa menumpuk dan memengaruhi berbagai sistem di tubuh.
Dalam jangka pendek saja, kurang tidur dapat membuat konsentrasi dan kewaspadaan menurun, reaksi menjadi lebih lambat, suasana hati lebih mudah berubah, dan tubuh terasa tidak benar-benar pulih meskipun sudah beristirahat.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika pola ini berubah menjadi kebiasaan.
Tidur merupakan waktu penting bagi tubuh untuk menjalankan berbagai proses pemulihan dan pengaturan pungsi tubuh.
Kurang tidur secara kronis dikaitkan dengan gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, depresi, serta penurunan fungsi kekebalan tubuh.
Bahkan ada satu bahaya yang sering diremehkan yaitu microsleep.
Seseorang bisa kehilangan kewaspadaan selama beberapa detik tanpa benar-benar menyadarinya.
Kalau terjadi ketika sedang menyetir atau mengoperasikan mesin, akibatnya bisa sangat serius.
Yang membuatnya terasa “menjebak”, orang yang terbiasa kurang tidur kadang merasa dirinya sudah mampu beradaptasi.
Padahal merasa terbiasa tidak berarti tubuh sudah kebal terhadap efek kekurangan tidur.
Bagi kebanyakan orang dewasa, tidur sekitar 7–9 jam per malam merupakan rekomendasi umum.
Kebutuhan setiap orang memang dapat berbeda, tetapi tidur 4–5 jam terus-menerus bukan sesuatu yang layak dibanggakan.
Jadi kalau belakangan kamu gampang lupa, sulit fokus, emosian, badan terasa remuk saat bangun, dan selalu membutuhkan kafein agar bisa berfungsi.
Jangan cuma bilang, “Aku memang biasa tidur sedikit.” bisa jadi tubuhmu sedang terus dipaksa bekerja tanpa mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.
*8beritanews.com
sumber : dr.rita/tiktok
Selama pagi masih bisa bangun, minum kopi, lalu bekerja seperti biasa, tubuh dianggap masih kuat.
Padahal kalau dilakukan terus-menerus, utang tidur bisa menumpuk dan memengaruhi berbagai sistem di tubuh.
Dalam jangka pendek saja, kurang tidur dapat membuat konsentrasi dan kewaspadaan menurun, reaksi menjadi lebih lambat, suasana hati lebih mudah berubah, dan tubuh terasa tidak benar-benar pulih meskipun sudah beristirahat.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika pola ini berubah menjadi kebiasaan.
Tidur merupakan waktu penting bagi tubuh untuk menjalankan berbagai proses pemulihan dan pengaturan pungsi tubuh.
Kurang tidur secara kronis dikaitkan dengan gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, depresi, serta penurunan fungsi kekebalan tubuh.
Bahkan ada satu bahaya yang sering diremehkan yaitu microsleep.
Seseorang bisa kehilangan kewaspadaan selama beberapa detik tanpa benar-benar menyadarinya.
Kalau terjadi ketika sedang menyetir atau mengoperasikan mesin, akibatnya bisa sangat serius.
Yang membuatnya terasa “menjebak”, orang yang terbiasa kurang tidur kadang merasa dirinya sudah mampu beradaptasi.
Padahal merasa terbiasa tidak berarti tubuh sudah kebal terhadap efek kekurangan tidur.
Bagi kebanyakan orang dewasa, tidur sekitar 7–9 jam per malam merupakan rekomendasi umum.
Kebutuhan setiap orang memang dapat berbeda, tetapi tidur 4–5 jam terus-menerus bukan sesuatu yang layak dibanggakan.
Jadi kalau belakangan kamu gampang lupa, sulit fokus, emosian, badan terasa remuk saat bangun, dan selalu membutuhkan kafein agar bisa berfungsi.
Jangan cuma bilang, “Aku memang biasa tidur sedikit.” bisa jadi tubuhmu sedang terus dipaksa bekerja tanpa mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.
*8beritanews.com
sumber : dr.rita/tiktok